Pernah nggak sih, Ayah atau Bunda merasa menyesal luar biasa setelah membentak si kecil? Rasanya dada sesak, lalu melihat anak menangis ketakutan, kita jadi ikutan sedih. Padahal niatnya cuma mau ngasih tahu kalau yang dia lakukan itu salah.
Kabar baiknya, Anda nggak sendirian. Menjadi orang tua memang ujian kesabaran yang luar biasa. Namun, tahukah Bunda kalau Rasulullah ? punya cara yang sangat elegan dalam menegur kesalahan anak tanpa harus merusak mental atau membuat mereka trauma?
Yuk, kita bedah teknik komunikasi ala Nabawiyah yang bisa langsung dipraktikkan di rumah!
Secara psikologis, saat anak dibentak, otaknya masuk ke mode fight or flight (melawan atau kabur). Bagian otak yang berfungsi untuk belajar justru "mati" karena ketakutan. Hasilnya? Anak mungkin patuh saat itu juga, tapi mereka nggak paham kenapa perbuatan itu salah. Mereka patuh karena takut, bukan karena sadar.
Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan.” (HR. Bukhari & Muslim).
Berikut adalah cara praktis yang dicontohkan Rasulullah ? saat meluruskan perilaku anak-anak di sekitar beliau:
Alih-alih langsung menghakimi dengan kata "Jangan!" atau "Salah!", Rasulullah seringkali memulai dengan pertanyaan atau arahan yang lembut.
Contoh Nabawiyah: Saat melihat Umar bin Abi Salamah makan dengan tangan berpindah-pindah di nampan, Rasulullah tidak menghardiknya. Beliau bersabda: "Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu."
Praktek Sekarang: Jika si kecil menumpahkan susu, jangan teriak "Tuh kan tumpah!". Coba tanya lembut: "Wah, susunya tumpah ya? Kira-kira kalau tumpah begini, kita harus ambil apa ya buat ngeringin?" Ini melatih anak mencari solusi, bukan merasa bersalah.
Seringkali kita menegur anak dari jarak jauh (sambil masak atau main HP). Ini yang bikin kita cenderung berteriak. Rasulullah mengajarkan pentingnya kontak fisik.
Contoh Nabawiyah: Beliau sering memegang bahu atau menjabat tangan lawan bicaranya agar pesannya sampai ke hati.
Praktek Sekarang: Sebelum menegur, dekati si kecil. Jongkoklah sampai mata kita sejajar dengan matanya. Pegang pundaknya atau genggam tangannya dengan lembut. Saat anak merasa aman dan terhubung secara emosional, mereka akan jauh lebih mudah mendengarkan nasihat kita.
Hati-hati dengan label "Anak Nakal" atau "Anak Bandel". Label adalah doa. Rasulullah selalu memisahkan antara pribadi anak yang mulia dengan perbuatannya yang keliru.
Praktek Sekarang: Jika anak memukul temannya, jangan bilang "Kamu anak nakal ya!". Katakanlah: "Ayah tahu kamu anak baik dan penyayang, tapi tadi memukul itu perbuatan yang menyakiti teman. Lain kali pakai kata-kata ya kalau mau pinjam mainan." Dengan begitu, anak tetap merasa berharga namun tahu perilakunya harus diperbaiki.
Minta Maaf ke Anak: Ini nggak akan menurunkan wibawa kita, justru mengajarkan anak cara bertanggung jawab atas kesalahan.
Istighfar: Ingat bahwa anak adalah amanah, bukan pelampiasan emosi.
Mendidik anak dengan cara yang baik adalah investasi jangka panjang. Sama halnya dengan memberikan awal yang terbaik bagi si kecil melalui ibadah Aqiqah yang sempurna.
Mendidik anak dengan cara yang baik adalah investasi jangka panjang. Sama halnya dengan memberikan awal yang terbaik bagi si kecil melalui ibadah Aqiqah yang sempurna.